Gak Kuat Motoran Jauh? Minta Bonceng Solusinya!
- Huir
- 8 Jun 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 20 Jun 2020
Kalian lebih suka merencanakan perjalanan kalian atau malah lebih suka kalau perginya dadakan? Pernah gak sih pergi dadakan dari yang awalnya cuma 3 atau 4 orang tapi jadinya malah buanyak banget? Wih, pasti seru banget kan kalo pergi rame-rame ke suatu tempat yang belum pernah kalian kunjungin? Oke, jadi untuk ceritaku kali ini berhubungan dengan hal-hal yang telah aku sebutkan di atas.
Waktu itu, kalo aku gak salah inget, tanggal 21 Oktober 2015. Saat itu aku berada di masa semester 1 yang yaaa bisa dibilang aku masih imut-imut dan polos. Hari itu adalah periode Ujian Tengah Semester (UTS) di kampusku. Kebetulan banget aku dapet jadwal pagi jam 07.30 WIB, berarti selesainya sekitar jam 09.30 WIB, tapi kamu bisa keluar lebih cepet kalo kamu selesai duluan. Mahasiswa yang selesai duluan saat ujian itu ada dua kemungkinan, yaitu memang mahasiswa pinter dan rajin atau malah mahasiswa yang pasrah menyerah pada keadaan. Selepas keluar dari kelas, aku sempatkan duduk-duduk di sebuah bangku yang terbuat dari batu dan berada di bawah pohon cempaka wangi (Magnolia champaca syn. Michelia champaca). Tempat duduk ini adalah tempat legend di kampusku dan merupakan salah satu tempat mahasiswa untuk berkumpul sekedar untuk melepaskan jenuh atau meratapi jawaban ujian sebelumnya yang baru terpikirkan ketika keluar ruangan. Haha!
Aku beserta beberapa temanku yang lain, sebut saja Taufik, Igun, Tiandi, dan Pungky lagi asyik ngobrol nih. Terus, kepikiran dong untuk jalan-jalan di waktu yang lagi senggang ini. Kemana? Awalnya sih kami cuma pengen keliling-keliling di Kota Yogya aja, tapi kemudian si anak asli Yogya nyeletuk,
āGimana kalo kita jalan ke pantai aja nih?! Mumpung banget masih pagi!ā
"Pantai mana?"
Nah, berhubung dulu aku belum pernah main ke pantai yang ada di Yogyakarta dan tidak tau seberapa jauhnya jarak dan durasi perjalanan dari pusat Kota Yogya ke pantai. Aku setuju. Kemudian, teman-teman yang lain ikutan tertarik nih (sebut saja Chalzuy, dind, Suc, Puj, Uci, dan Dedes), maklum anak rantau sih rata-rata. Mereka pada ikutan nimbrung dan akhirnya kita janjian untuk pulang sebentar dan ketemuan lagi di kampus selepas zuhur.
Oke, Skip! Selepas zuhur kami sudah berkumpul di kampus dan bersiap untuk berangkat ke lokasi. PANTAI WEDIOMBO! Kami menggunakan motor untuk pergi ke pantai tersebut. Sebagai informasi, aku membonceng Tiandi (anggep aja namanya itu) dan kalau kalian mudah mengantuk kalo motoran jauh aku saranin mending dibonceng aja! Serius! Pada perjalanan kali ini pun aku akhirnya mengetahui kalo sebenarnya waktu tempuh menuju pantai tersebut adalah sekitar 2-3 jam.
Kami melewati Jalan Wonosari agar bisa sampai ke pantai tersebut. Nah, ada sebuah kejadian dimana salah seorang temanku yang berperan sebagai pemandu jalan malah lupa rute untuk menuju lokasi. Akhirnya kami pun memasuki kebun pohon jati yang sebenarnya temanku juga agak ragu rute yang harus dilalui ini sebenernya yang mana. Oke, Fix. Sepertinya bakal nyasar. Tapi sepertinya keberuntungan masih berpihak kepada kami, karena akhirnya sampai juga di lokasi yang kami tuju. Ini skip banyak banget ya, anggep aja durasi 2-3 jam perjalanan itu kita lewatin hahaha.
Kami sampai di lokasi sekitar jam setengah 3 petang dengan berbagai insiden sepanjang perjalanan. Kami memulai perjalanan di tempat tujuan pada areal tempat parkir, dimana apabila kita ingin sampai di bibir pantainya sendiri harus menuruni anak tangga kurang lebih sebanyak 50 anak tangga yang telah disemen. Di samping kiri anak tangga kita dapat melihat papan peta dari areal pantai tersebut dan berbagai informasi lainnya. Kemudian menuruni anak tangga, kami pun menyempatkan untuk mampir sejenak di sebuah warung untuk sekedar beristirahat dari perjalanan yang baru saja kami tempuh dan tentunya menyeruput es teh manis yang sangat menyegarkan di tengah panasnya suasana pantai.
Pantai Wediombo sendiri sesuai namanya kalian akan menemukan hamparan pasir putih yang luas dan kalian juga dapat melihat hamparan batuan besar serta beberapa pohon rindang yang menghiasi pantai tersebut dengan airnya yang berwarna biru. Saat kami kesana pada tahun 2015, pantai tersebut masih sepi pengunjung sehingga hanya ada kami dan beberapa pengunjung saja yang ada di pantai tersebut. Sebagai informasi juga bahwa sebenarnya pantai Wediombo ini terletak di Desa Jepitu, Girisubo, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 80 km dari Kota Yogyakarta. Ombak di pantai ini pun cukup tinggi, kata orang-orang sih bisa setinggi 3-4 meter dan bisa dipakai untuk berselancar juga. Apabila kalian berjalan menyusuri pantai kearah barat maka akan menemukan hamparan ganggang hijau yang menutupi bebatuan yang ada di pinggir pantai Wediombo. Warna hijau yang dihasilkan pun juga menyejukkan mata sih menurutuku. Waktu dulu rombonganku ke pantai tersebut juga sedang banyak terdapat kelinci laut (Aplysia sp.) yang bertubuh lunak dan menurutku juga lucu.
Sayangnya waktu aku kesana, aku tidak mengetahui apabila menyusuri pantai ke arah timur maka akan dapat menemukan sebuah kolam air tersembunyi yang dikelilingi oleh gugusan batu besar. Kolam air ini sendiri pun memiliki kedalaman 1,5 meter. Kolam tersebut memiliki air yang tenang dan tidak terpengaruh oleh deburan ombak yang tinggi menghantam bebatuan. Ohiya, fasilitas di pantai Wediombo sudah dapat dikatakan cukup lengkap dengan toilet dan musholanya.
Sebagai informasi lagi, Pantai Wediombo sendiri merupakan salah satu bagian yang masuk ke dalam Kawasan UNESCO Global Geopark Kawasan Gunungsewu yang membentang sepanjang Kabupaten Gunungkidul yang ada di Yogyakarta, Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah, dan Kabupaten Pacitan di Jawa Timur. Balik lagi ke ceritaku. Kami berada di Pantai Wediombo sekitar kurang lebih satu atau dua jam. Di tengah perjalanan, jalan yang kami lalui mulai berubah menjadi gelap dan juga kami baru menyadari kalau jalan tersebut belum memiliki lampu jalan saat itu sehingga kamipun masih meraba-raba. Jadi saranku adalah kalau di sepanjang perjalanan kalian tidak menemui adanya sosok lampu jalan, maka jangan pulang malam!
Pesan moral dari cerita ini sama dengan kalimat sebelumnya, āKalau kalian tidak melihat lampu jalan di sepanjang perjalanan, jangan pulang malam!ā dan ākalau tidak kuat mengendarai motor sendiri, mintalah diboncengā. Kalian baru selesai keluar dari ruang ujian? Suntuk? Pengen liburan? Refreshing aja bareng teman!
Yok sharing juga pengalamanmu dengan menulis komentar di bawah!














Komentar