top of page

Motoran Jam 3 Dini Hari Demi Sunrise

  • Gambar penulis: Huir
    Huir
  • 13 Jul 2020
  • 4 menit membaca

Pernah gak sih kalian merencanakan suatu perjalanan sampe ke bagian-bagian terkecil pun sudah diperhitungkan? Pergi sama siapa aja, kapan berangkatnya, barang-barang apa aja yang perlu dibawa, dan berapa lama di tempat tersebut. Semua udah kalian siapkan dan tinggal melakukan eksekusi dengan plan kalian. Tapi tiba-tiba, BOOM, semua berantakan karena ada faktor asing yang terlibat. Cerita kali ini akan mengangkat hal tersebut.


Ada suatu tempat yang kalau misalnya kalian ajak aku terus-terusan kesana, aku gak bakalan bosen. Biasanya aku cukup sekali aja untuk pergi ke suatu tempat karena kalo udah beberapa kali ya pasti bosen. Tapi beda cerita kalo kalian ajak aku ke dataran tinggi Dieng. Mau kalian ajak berapa kali dan berapa lama pun disana, aku bakalan betah. Nah, di cerita ini adalah kali kedua aku pergi kesana dan pertama kalinya bersama teman-temanku dari fakultas yang sama.


Waktu itu kalo gak salah sekitar tanggal 2-3 Juni 2016. Perencanaan kami udah mateng banget, dari bawa tenda, berapa orang yang ikut, akomodasi kesananya naik apa, dan Time plan nya ngapain aja disana udah fix. Kalo kayak orang-orang di folder skripsi mungkin namanya ā€œTime Plan Dieng paling fixxx ya Allah fix beneran pake bangeeettttt.ā€


Tanggal 2 Juni 2016 kami rencanakan untuk nginep dulu di rumah Topik di Temanggung untuk nginep semalam sebelum lanjut ke Dieng. Semuanya lancar. Jalan tanpa hambatan dari Yogyakarta menuju ke Temanggung. Sore hari kami sampai di rumah Topik dan disambut oleh keluarganya. Kami langsung berkumpul di lantai dua untuk beristirahat sebentar sebelum bergantian untuk mandi. Singkat cerita, malam itu kami merencanakan untuk besoknya berangkat ke dieng pukul 02.00 WIB. Asumsinya sih biar bisa sekalian dapet sunrise di sana dan emang itu tujuan awalnya.


Tapi rencana emang tinggal rencana. Tanggal 3 Juni 2016 pukul 03.00 WIB kami baru siap berangkat karena ada yang tidurnya kayak kebo, susah banget dibangunin. Pakaian tebal, pakai jaket, syal dililit di leher sampe hidung biar gak kedinginan, pake kaos kaki, dan gak ketinggalan pake sarung tangan menjadi persiapan selama motoran di tengah udara dingin yang ganas dan tidak manusiawi tersebut. Kalian bisa bayangin motoran jam 3 dini hari dengan cuaca dingin khas pegunungan yang kalo pagi harinya kalian udah ngerasa dingin, Nah, ini lebih dingin daripada itu. Sepanjang perjalanan gak ada yang tertarik ngasih kode buat berhenti, semuanya diam, antara emang pengen ngejar sunrise atau gengsi mau minta berhenti karena badan udah geter-geter kayak mesin cuci.


Sebelum beberapa saat lagi bakalan memasuki kota Wonosobo akhirnya ada yang nyalip motorku di depan. Ada yang kebelet pipis. Ya udah, akhirnya berhenti sebentar di SPBU. Begitu turun dan ngumpul di parkiran akhirnya terlihat jelas semuanya udah gemeter, bibir biru, tangan mati rasa, dan gigi gemeletukan. MERINDING DISKO GAN! Karena sebentar lagi masuk waktunya shalat subuh akhirnya kami putuskan untuk shalat di mushola SPBU.


Di jalan Dieng ada kejadian yang benar-benar bikin gak bisa ngomong apa-apa. Pasrah aja udah bawaannya. Saat sinar keemasan sudah mulai muncul malu-malu di balik lautan awan. Fix. Gagal sudah rencana untuk melihat sunrise di puncak Sikunir, yang ada malah sunrise di jalan, sunrise on the road …. Akhirnya kecepatan berkendara kami turunkan untuk menikmati pemandangan lautan awan dan sekalian menghangatkan badan setelah udara dingin berhasil membungkus tubuh kami.



Tidak hanya itu teman-teman. Salah satu kejadian lainnya yang merusak agenda kami lagi adalah patahnya frame tenda dan mengakibatkan tenda tidak dapat didirikan. Padahal rencana awalnya adalah bermukim satu malam di Telaga Cebong yang pupus seketika akibat rangka tenda yang patah. Akhirnya sebagai pelipur lara kami putuskan naik ke puncak Sikunir untuk berfoto.



Not bad, lah. Kali ini keadaan puncak sedang sepi dari pengunjung. Cuma ada kami dan dua ukhti tangguh yang membuat kami terkagum-kagum. Kemudian dua temanku, Pungky dan Ipul, memutuskan untuk naik lagi ke puncak satunya yang lebih tinggi. Sisanya memutuskan untuk istirahat di Sikunir. 15 menit sudah lewat tapi dua orang tersebut belum muncul-muncul juga. Akhirnya kami putuskan untuk menyusul mereka dan meninggalkan Mami Octa bersama ibu-ibu warung di Sikunir.



Setelah melewati lorong yang terbuat dari tanaman bambu akhirnya kami menemukan mereka dan pemandangan yang lebih menakjubkan daripada sebelumnya. Di sana, hamparan awan tanpa terputus menutupi pemandangan di bawah kami dengan beberapa puncak gunung berdiri gagah seakan menyambut untuk menghibur kami, melupakan kekecewaan karena rencana kami yang gagal. Bagiku hal tersebut sudah cukup. Duduk menikmati pemandangan tersebut seakan memberikan perasaan damai. Hal itu lah yang selalu aku ingin rasakan lagi, lagi, dan lagi. Tidak bosan-bosan.



Kalau ibaratnya pantai dan ombak memberikan perasaan tenang yang memberi semangat, maka dataran tinggi dan hamparan awannya memberikan perasaan tenang dan damai yang melankolis. Perasaan yang membuat kita merasa kecil dan insignifikan. Perasaan tersebut sulit untuk digambarkan dengan kata-kata dan mungkin, hanya mungkin, kalian juga memahami perasaan seperti yang kusebutkan tadi.


Memang lebih baik apabila sesuatu direncanakan dengan sedemikian rupa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun perlu diingat pula bahwa kita hanya bisa berencana tapi tetap saja akan selalu ada hal-hal yang timbul di luar dari perhitungan kita. Sehingga jangan mudah emosi apabila ada hal yang menggeser atau membatalkan suatu bagian dari rencana kita. Tapi, hadapi dengan membuat rencana baru untuk memperbaiki hal yang telah terjadi serta tetap tenang dalam menghadapi hal yang timbul di luar dugaan, sama seperti perasaan ketika melihat ombak di pantai atau awan di dataran tinggi.


Semoga kalian yang membaca tulisan ini diberikan semangat untuk melanjutkan apapun rencana kalian ke depannya. Tidak mudah patah semangat apabila ada sesuatu yang di luar perhitungan kalian. Y’all matter!


Yok sharing juga pengalamanmu dengan menulis komentar di bawah!

Komentar


© 2020 by CERITA CUAP-CUAP. Proudly created with Wix.com

bottom of page