Pesan yang Takkan Terbaca
- Huir
- 29 Jun 2020
- 4 menit membaca
Hei, hari ini aku tiba-tiba ingat ketika kita pergi ke Kebun Raya Bogor. Apa kamu masih ingat?
Kulihat kembali pesan terakhir yang kukirimkan kepadanya. Hari Jumat tanggal 13 Maret 2020. Sudah tiga tahun aku mengirimkan pesan kepada orang yang tidak akan pernah membalas pesanku. Aku tidak tahu dia kenapa. Namun, tiba-tiba dia menghilang begitu saja, tanpa kabar, tanpa jejak.
Kuambil sepotong roti bakar yang sudah kusiapkan sedari rumah tadi untuk kumakan di jalan menuju kantor. Sambil menunggu angkutan umum datang aku mengetik pesan untuk kukirimkan. Pada kontak yang sama. Setelah tiga bulan lamanya semenjak pesan terakhir yang kukirimkan.
Aku rindu ketika kamu tersenyum kepadaku.
Angkutan datang tepat ketika aku mengirimkan tombol send kepada kontak tersebut. Mataku menerawang mengingat kenangan bersamanya. Tiga tahun lalu. Kata orang, masa-masa yang paling indah adalah masa PDKT (pendekatan). Dia yang tidak pernah sempat aku miliki, aku berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengannya dan juga dia pernah berkata bahwa sedang tidak ingin menjalin hubungan. āTidak ingin ada rasa,ā katanya. Tapi meskipun begitu, kami sudah sering jalan berdua, belajar bersama semasa kuliah dulu, menemaninya begadang mengerjakan skripsi, bahkan sekadar mengantarkan obat ketika dia sakit. Sampai akhirnya aku pernah menanyakan kepadanya, āApa sekarang kamu sudah ada rasa denganku?ā āSedikit.ā ucapnya. Cukup untuk membuatku merasa lega.
Namun, semenjak kelulusanku dan aku kembali ke kampung halamanku di Yogyakarta, sedikit demi sedikit dia mulai menjauh. Dia memang masih berkutat dengan skripsinya, hal itu lah yang membuatnya masih menetap di Bogor. Setelah itu pesanku hanya dibalas seminggu sekali, meskipun memang sebelumnya memang tidak seintens orang berpacaran, dan berakhir dengan pesanku yang tidak dibaca setelah beberapa bubble chat. Puncaknya adalah pesanku tidak lagi dibaca tepat pada bulan Juni 2017. Nomornya tidak aktif, akun instagramnya menghilang, yang tersisa hanyalah kontak Line yang hingga detik ini masih bertengger di handphoneku. Diam membisu. Sejak saat itu juga aku mulai mengirimkan pesan yang tak akan pernah terbaca kepada kontak tersebut. Kontak yang sudah seperti diary bagiku. Selama tiga tahun lamanya.
Lamunanku buyar ketika angkutan berhenti di terminal yang kutuju. Dengan langkah gontai kumasuki ruangan kantorku yang berukuran 2 x 2 meter. Kuletakkan tas kerjaku di samping kanan meja dan secara tidak sengaja sudut mataku menangkap foto wanita tersebut, saat kami di Kebun Raya, yang kupajang di samping kanan komputerku. Ada rasa sesak yang memenuhi rongga dadaku setiap kali melihatnya. Rasa sesak yang membelenggu nafasku.
Kenapa kamu menghilang begitu saja?
***
Jam sudah menunjukkan pukul 18.13 WIB ketika aku merebahkan diriku di atas kasur sembari menunggu air hangat yang sedang kusiapkan. Iseng kubuka handphoneku dan mengarahkan jariku di atas ikon berbentuk kotak hijau tersebut. Kugulirkan layar hingga aku menemukan kontak yang bertuliskan namamu. Kubaca kembali pesan-pesan yang telah kukirimkan kepadamu.
Agustus 2017. Hei! Hari ini aku bakal melakukan interview kerja loh, doakan aku berhasil ya!
Februari 2018. Aku bertemu dengan perempuan yang mirip kamu loh di Gandaria!
Mei 2018. Apa kabarmu?
Januari 2019. Aku harap kamu membaca pesanku ā¦
Kuletakkan handphoneku di atas kasur dan melangkahkan kaki memasuki kamar mandi. Guyuran air hangat melepaskan seluruh rasa penat setelah seharian bekerja. Menguapkan semua penatku pada dunia. Memberikan rasa nyaman yang menimpa seluruh rasa yang mengganjal di hatiku selama bertahun-tahun ini. Usiaku sudah akan menginjak 26 di tahun ini. Kuingat kembali bahwa keluargaku sudah sering mengingatkan ku untuk segera menikah. āBiar ada yang mengurusiā katanya. Aku hanya mengamini agar pembicaraan cepat selesai.
***
Selepas mandi, kulihat di layar handphoneku terdapat notifikasi Instagram. Nama yang kukenal tertera disana. FIKhansa started following you. Aku tersentak. Segera kubuka dan kudapati dia orang yang kukenal, orang yang kontaknya telah kukirimi pesan selama tiga tahun ini. Seluruh rasa yang menumpuk selama tiga tahun ini melonjak kegirangan ingin segera keluar dari dadaku. Senyumku merekah selebar yang bisa dibuat. Ada sebuah direct massage di akunku. Khansa pengirimnya. Segera kubuka dan kubaca.
āHei, Apa kabarmu?ā tulisnya.
āKabarku baik. Akun baru ya? Haha,ā jawabku
Bagaimana kabarmu? Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu!
āIya, baru kubuat beberapa hari yang lalu. Oh iya! Kamu udah dapat undangan?ā
āUndangan? Undangan apa?ā
āOh, belum ya? Sebentar kukirimkan fotonya.ā
Bagai disambar petir aku mematung setelah melihat foto yang dikirimkannya. Secepat itu perasaan mempermainkanku dan secepat itu pula kegembiraan berubah menjadi kepedihan yang mencengkeram paru-paruku kembali. Undangan pernikahan. Tertulis disana Mohon doa restu atas pernikahan kami Faranisa Indira Khansa dengan Zafran Muharam. Hari Minggu, 15 November 2020. Rasa sakit menyerang hatiku, dadaku sesak membacanya. Setelah tiga tahun lamanya dia menghilang tanpa kabar sedikitpun, meninggalkanku sendirian dengan sebuah kontak yang terus menerus kukirimi pesan berharap dia akan membacanya suatu saat nanti, dan akan menikah?! Duniaku seakan runtuh membaca undangan tersebut. Hatiku sakit. Dadaku sesak. Tak terasa pipiku terasa panas dan berair. Seorang pria dewasa berumur hampir 26 tahun mengalir air mata membasahi pipi. Air mata harap dan kecewa yang bertumpuk selama tiga tahun akhirnya jatuh pada hari ini. Tak terbendung lagi hari ini. Dia menghubungiku kembali hanya untuk memberikan undangan pernikahannya. Kusesap secangkir kopi yang kubuat tadi. Aku memang tidak pernah baik dengan kopi. Pahit. Sepahit itu. Malam itu aku habiskan untuk mengurung diri di dalam kamarku.
***
15 November 2020
Kumasuki Gedung Puri Begawan dengan keyakinan penuh. Baju terbaik telah kupakai untuk menghadiri pesta pernikahannya, hari bahagianya. Aku tersenyum melihatnya mengenakan gaun pengantin yang sangat indah dan membuatnya tampak menawan persis seperti tiga tahun lalu ketika aku melihatnya tersenyum. Ketika aku yang membuatnya tersenyum. Senyumnya masih saja manis. Wajahnya tidak berubah, dia Khansa yang kukenal. Khansa yang kucintai sampai saat ini. Aku turut bahagia melihatnya bahagia di atas pelaminan sana.
Tiba saatnya bersalaman dengan kedua mempelai. Kuangkat kepalaku dan berjalan ke atas panggung. Kusalami dengan tegas tangan Zafran sembari berkata, āSelamat Zafran! Tolong jaga dan buat Khansa bahagia, ya.ā Zafran tersenyum. Kupalingkan wajah ke arah Khansa. Kuberikan senyum. āSelamat ya Khansa. Semoga kamu bahagia. Aku tetap dan akan selalu mendoakanmu,ā ucapku. Mata Khansa berkaca-kaca. Terlihat raut penuh penyesalan disana. āTerima kasih, Sel. Dan maafkan aku ā¦.ā ucap Khansa lirih. Aku tersenyum.
Aku menuruni panggung. Mataku panas menahan rasa sesak yang tak sanggup kupendam. Aku tak lagi menoleh ke belakang, kutinggalkan semua kenangan dan perasaanku disana. Selamat tinggal masa laluku. Selamat tinggal pesan yang takkan pernah terbalas. Kuharap kau takkan pernah membacanya.
Aku pergi.


Komentar