dear Celia
- Ruby
- 27 Jun 2020
- 7 menit membaca

Celia ingat betul saat neneknya berkata bahwa membuat seribu origami burung dapat mengabulkan permintaannya. Kala itu, daun-daun menguning dan gugur perlahan ketika Celia dan neneknya duduk di bawah pohon di belakang rumah.
“Kamu tahu bahwa membuat seribu origami burung bisa mewujudkan impianmu?”
“Benarkah, Nek? Apapun itu?” Mata kecilnya bersinar cerah, lebih cerah dari hari itu.
“Tentu, Sayang,” Neneknya tersenyum hangat sambil mengelus kepala cucu kesayangannya yang baru saja berusia lima tahun dua hari lalu. Angin semilir bertiup lembut, menerbangkan daun-daun dari pohon tua itu dan membelai rambut cokelat Celia. Hari yang sangat berkesan bagi hidup gadis mungil itu, hal-hal sederhana yang bisa membuatnya bahagia hanya dengan bersama neneknya; satu-satunya orang yang menjaganya sampai sekarang.
“Seratus empat belas ....”
Tangan halus dan mungilnya baru saja menyelesaikan lipatan sayap seekor burung. Lengannya sedikit bergetar karena sudah dua hari ia melewatkan jadwal makannya dan berdiam di dalam kamarnya sambil melipat kertas-kertas origami yang berserakan di lantai. Sudah dua bulan neneknya terbaring lemah di kamar dan Tia, pengasuh baru yang direkrut oleh paman, dengan telaten merawat wanita tua itu siang dan malam. Tia sangat lembut dan cekatan, sehingga Celia sangat senang ketika neneknya dapat dirawat oleh malaikat seperti Tia.
Tiba-tiba terdengar ketokan di pintu.
“Celia ....” Ah, itu Tia! Celia segera merapikan kertas-kertas origaminya dan menyembunyikannya di bawah kasur. Ketukan di pintu terdengar lagi.
“Iya, sebentar,” sahut suara mungil itu. Segera saja Celia sedikit berlari dan membuka kenop pintu. Di depannya, Tia sudah berdiri dengan membawa satu nampan sarapan untuk gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Nampak jelas bahwa Tia tahu bahwa Celia melewatkan jadwal makan selama dua hari. Matanya melihat rona wajah Celia yang pucat dan tidak secerah biasanya.
“Celia sayang, kenapa kamu tidak makan?”
Bagaimana Tia bisa tahu ...
“Ah ... u-um ...” matanya melirik kesana-kemari, berusaha menghindari tatapan tajam dari Tia. Tia mungkin baik, tapi saat dia marah dia bisa saja menyeramkan. “M-maaf,” cicitnya pelan sambil tertunduk dan memilin tali gaun tidurnya. Tia hanya bisa menghela nafas. Ia melangkah pelan ke dalam kamar Celia lalu meletakkan sarapannya di atas meja. Celia mengikutinya dari belakang sambil masih menundukkan kepala.
Tia berbalik dan melihat raut wajah murung gadis itu. Ia tersenyum lembut lalu menangkup wajah Celia yang lebih halus dari sutra. Air matanya mulai tergenang di pelupuk mata.
“Celia harus sehat, kasihan nanti kalau nenek sampai tahu kamu tidak makan,” Ia memeluk tubuh mungil itu dengan erat sambil mengelus kepalanya. Celia begitu rapuh dalam pelukannya dan juga berharga. Dia tidak punya siapapun selain neneknya yang kini sedang terbaring lemah di ranjang tua dalam kamar.
Celia menangis sesenggukkan. Ia mengangguk sambil berkata ‘iya’ dengan lemah. Tia membiarkannya menangis sampai gadis itu merasa sedikit lebih baik lalu mengecup pelan dahi Celia. “Aku akan kembali ke kamar nenek, okay. Bila perlu sesuatu jangan ragu untuk mampir. Kalau aku tidak ada di kamar, mungkin kamu bisa menemukanku di dapur, mengerti?” Celia mengangguk dan mengelap air matanya dengan lengan baju. Suaranya terbata-bata dan serak saat berbicara, “A-apa nenek a-a-kan baik-baik s-saja? A-a-apa d-dia masih b-batuk-batuk?”
Sungguh hati Tia remuk saat melihat kondisi gadis manis itu. Dia masih terlalu dini untuk melewati semua ini, neneknya menyembunyikan vonis bahwa ia menderita kanker paru-paru stadium empat, sudah tidak ada harapan lagi bagi wanita tua itu untuk bisa menyaksikan Celia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam kepada Tia, dia sangat mengkhawatirkan masa depan Celia yang seakan terlihat suram di matanya.
“Nenek sudah membaik, sudah sangat jarang sekali batuk.” Kebohongan itu terasa manis sekali bagi Celia namun begitu pahit di lidah Tia. Baginya binar harapan pada mata si mungil itu sudah cukup untuk memberinya harapan bahwa semua, pada akhirnya, akan baik-baik saja.
“Benarkah? Benarkah?”
Tia harus menggigit lidah untuk mencegahnya mengatakan lebih banyak kebohongan lagi. Ia mengangguk, mengelus pelan rambut Celia, lalu beranjak pergi. Tidak butuh waktu lama bagi Celia untuk segera menghabiskan sarapannya dengan semangat dan menatap kertas-kertas origami di bawah kasurnya dengan cerah.
“Nenek, tunggu sedikit lagi, ya.”
Tia harus pulang lebih dulu dan mengatakan bahwa ia akan izin selama dua hari karena hari itu tiba-tiba kakaknya di bawa ke rumah sakit untuk melahirkan. Celia dan neneknya tidak mempermasalahkannya dan bahkan menyuruhnya untuk segera berkemas.
“Pulanglah dan cepat susul kakakmu di rumah sakit. Lusa, ceritakan kepada kami mengenai bayi mungil itu, hm?”
“Nanti Celia juga mau main sama adik bayinya, boleh ya, boleh ya? Nanti bawa ke sini juga, Celia mau lihat.”
Tia pergi dengan senyum cerah ke rumah sakit saat mengingatnya. Celia dan neneknya, mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi Tia. Tentu Tia akan menepati janjinya pada Celia untuk membawa keponakannya tersebut ke rumah mereka.
“Delapan ratus delapan lima!”
Celia begitu bahagia melihat origami-origami burung yang tersusun rapi di sampingnya. Mereka terlihat cantik dan berwarna-warni. Celia segera berlari kecil ke kamar neneknya, lalu membuka pintu kamar dengan hati-hati. Suara berderit terdengar jelas dan di sana neneknya sedang tertidur pulas. Kakinya mengendap-endap mendekati ranjang dan memegang tangan keriput milik neneknya. Ia mendekatkan tangan itu ke pipi lalu berbisik.
“Celia sayang nenek, cepat sembuh, ya, Nek. Origami yang Celia buat sudah hampir seribu, kita pasti bisa main lagi, kan? Kalau nenek sembuh, nanti Celia ajak nenek jalan-jalan ke toko roti Harold. Kata temen-temen, di sana rotinya enak, Celia sudah nabung buat kita nanti ke sana. Celia sayang nenek.” Celia mengecup pelan tangan itu. Waktu kebersamaan mereka semenjak neneknya sakit berkurang drastis karena kondisi nenek yang lemah dan membutuhkan istirahat yang banyak sehingga kapanpun neneknya terjaga, Celia akan segera menghampirinya.
Neneknya mendengkur halus dan Celia bernafas lega saat mengetahui bahwa kondisi nenek sudah membaik. Ia berjinjit sedikit, lalu mengecup pipi neneknya itu.
“Selamat malam, nenek sayang. Tidur yang nyenyak.”
Ia bertekad untuk menyelesaikan seribu origaminya malam itu juga. Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari dan Celia masih sibuk dengan origaminya. Semenjak Tia pergi, dia tidak makan apapun kecuali sarapan yang diberikan Tia dua hari yang lalu. Maka tidak heran bila tiba-tiba darah menetes dari hidungnya.
Tes
Celia menatap darah yang mengucur tersebut dengan bingung. Dia mencoba untuk mengelapnya, namun darah itu seperti tidak mau berhenti. Hal tersebut membuat gadis itu panik dan segera berlari kembali ke kamar neneknya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Tidak, nenek tidak boleh tahu. Celia tidak boleh buat nenek panik, nenek butuh istirahat.
Celia segera berjalan kembali ke kamarnya sambil meraba dinding, tubuhnya mulai melemah karena kurang istirahat dan tidak ternutrisi dengan baik. Celia membulatkan tekadnya untuk menyelesaikan seribu origami burung itu, apapun yang terjadi. Ia menyeka darah dengan bajunya, lalu kembali melipat origami ke delapan ratus delapan puluh enam.
“Celia!”
Tia segera menghambur dan memeluk tubuh mungil itu yang sudah dingin. Baju tidurnya penuh dengan noda darah dimana-mana, bibirnya begitu pucat, namun malaikat kecil itu tersenyum sangat manis, sama seperti saat dia menyapa Tia untuk pertama kali.
“Halo, namaku Celia!”
Celia berhasil menyelesaikan seribu origaminya. Burung-burung itu terlihat indah, berserakan di lantai kamar Celia namun tetap terlihat cantik. Dari tangan mungil inilah, seribu burung itu tercipta. Dari tangan mungil inilah, harapan kecil Celia muncul lewat origami itu. Dari tangan mungil inilah, cinta dan kasih Celia terwujud.
“Celia ....” lirih Tia. Ia tidak bisa melakukan banyak hal selain membaringkan gadis manis itu di atas tempat tidurnya. Ia membelai rambut Celia dan mengecupnya pelan.
Tia segera berlari menuju ke kamar neneknya. Langkahnya gontai dan pandangannya kosong saat melihat dua orang yang dicintainya telah pergi bersama meninggalkan dirinya. Nyonya Heesters, nenek Celia, ditemukan sudah tidak bernyawa dengan berkas darah di sapu tangan dan kerah bajunya.
Dunia seakan runtuh tepat di depan mata wanita itu. Ia menjerit, menangis, menumpahkan semua emosinya di kamar itu. Ia tersungkur lemah dan memukul-mukul kepalanya di lantai. Seandainya saja ...
“Tia, ayo makan dulu. Makan bareng Celia, ya!”
Seandainya saja ...
“Sini, nenek ajari cara merajut.”
Seandainya saja ...
“Nenek suka makan brownies, Tia bisa ajari Celia buat kue?”
Seandainya saja ...
“Astaga, sepertinya aku sudah semakin menua. Tia, kamu ingat dimana aku menaruh kaca mataku?”
Seandainya saja aku bisa memutar waktu ...
Orang-orang berpakaian hitam perlahan pergi meninggalkan pemakaman, namun ada satu sosok yang masih terduduk di antara dua makam tersebut. Tatapan matanya kosong, air matanya sudah mengering, dan ia terlihat begitu lesu. Tangannya menyapu nisan yang dingin itu dengan senyum getir.
“Celia ....” Matanya memanas mengingat kembali kebaikan dan tingkah lucu malaikat kecil itu. “Sayangku, apa kamu sudah bahagia? Aku yakin sekarang kamu sedang berada di taman bunga bersama nenek, kan?” Ia mengecup nisan itu dengan lembut, seolah-olah Celia masih ada disana dan bukannya batu nisan tersebut.
“Maaf ...” isaknya, “maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian ... maafkan aku ...” air matanya membasahi makam Celia. “Seharusnya ... seharusnya aku tidak pergi. Maafkan aku aku, maafkan aku yang egois ini.”
Tangan Tia gemetar saat meletakkan satu origami burung di atas makam Celia.
“Berbahagialah, Sayang. Sekarang nenek sudah tidak sakit lagi dan kamu bisa bersama dengan nenekmu selamanya.”
Ia meletakkan setangkai bunga lily putih di atas makam Nyonya Heesters.
“Aku membawa bunga favoritmu,” Tia juga mengusap nisan itu dengan lembut. “Terima kasih untuk semua kasih sayangmu selama ini, terima kasih atas pelajaran hidup yang begitu berharga untukku, terima kasih telah menjadikanku bagian dari keluarga hangat ini. Sudah tidak sakit lagi, kan?” Tia menangis sesenggukan sebelum melanjutkan perkataannya. “Sekarang sudah tidak perlu lagi merasa sesak, sekarang semuanya sudah baik-baik saja dan sudah ada Celia yang menemani. Celia begitu mencintaimu, Nyonya, dan aku begitu mencintai kalian berdua. Terima kasih untuk semuanya.”
Tia mencoba untuk berdiri. Ia berusaha mengusap air mata yang tidak berhenti mengalir walaupun sudah ditahan berkali-kali. Ia menatap langit yang begitu cerah, persis seperti senyum Celia dan tatapan Nyonya Heesters kepadanya. Tia tersenyum getir.
“Selamat tinggal.”
“Seribu ....”
Celia terbaring lemah di atas lantainya, matanya menyapu origami-origami itu dengan perasaan bahagia. Ia tersenyum senang dan melipat tangannya untuk berdoa.
“Tuhan, Celia ingin nenek sembuh. Celia ingin nenek tidak merasa sakit lagi.” Ia terisak dan mengelap darah dari hidungnya. “J-jangan ambil nenek, ambil Celia saja. Nenek harus panjang umur,” bahunya bergetar hebat karena deru tangisnya yang semakin kuat. “Tolong, Tuhan, buatlah nenek bahagia.” Nafas Celia mulai tersengal-sengal. Matanya terasa berat dan kilasan memori tentang ia dan neneknya berkelebat. Semuanya begitu hangat dan penuh cinta, persis seperti neneknya.
“Celia ....” Gadis itu merasa damai seketika, ia merasa hangat dan tentram. Ia melihat sebuah tangan terulur dan di sisa-sisa tenaganya, ia melihat sosok yang mengulurkan tangan itu.
“Celia ....”
Gadis itu tersenyum senang. Seribu origaminya benar-benar mengabulkan harapannya.
“Ayo kita pergi.”
Gadis itu menerima tangan orang yang ia cintai tersebut dengan bahagia.
“Ayo, Nek.”


Komentar