Move on | Beralih.
- fari

- 24 Jul 2020
- 3 menit membaca
3.29 PM Waktu Indonesia Bagian Barat.
Bersama laptop dan sepoi angin diiringi lagu dari Matter Halo feat Nadin Hamizah – Teralih.
Hmm coba aku tulis penggalan liriknya di sini, ya?
Terlalu tinggi
Terbuai kan mentari
Tak mau kembali
Kita melayang
Terlalu lama
Menghangatkan segala
Dingin dunia
Tibalah malam
Herannya lelah
Tak kunjung datang jua
Long time no see! Udah 2 mingguan aku ga nulis di blog ini. Hmm sebenernya tiap minggu aku pasti nulis. Cuma ga pede buat di-publish. Kek tulisannya kadang aku rasa kurang layak untuk dipublikasikan aja gitu, walaupun ini juga sih. Gatau, gamood aja kemaren-kemaren.
Hari ini aku punya kosakata baru: “beralih”.
Kata “alih” yang dapat imbuhan ber- di awal. Aku udah lupa lupa ingat namanya prefix bukan ya imbuhan di awal? Ya itu lah pokoknya. "Alih" ini punya arti di KBBI itu pindah; ganti; tukar; atau ubah.

Buatku pribadi, “beralih” (atau yang punya sinonim "berpindah" kali ya) ini jadi kosakata indie buat move on. Cailah. Iya, move on. Beralih ga si artinya? Pindah gitu? Move on buatku punya makna yang luas. Ga sekedar tentang konteks patah hati kisah kasih dua manusia tapi bisa tentang banyak hal. Tapi konsepnya sama, beralih dari kegagalan atau masa lalu yang ingin diperbaiki.
Proses menuju ke sana menurutku ga gampang. Ada satu tahapan yang mungkin cukup berat yang menentukan keberhasilan move on ini, yaitu berdamai dengan kegagalan itu sendiri.
Acceptance.
Deal with the failure, disappointment, and rejection.
Perasaan manusia itu ga eksak, kompleks pula, sampai kadang kita sendiri mungkin bingung kita ini lagi kenapa, maunya apa. Sebingung itu. Apalagi ngadepin hal-hal yang negative, berbau kegagalan. Akal dan hati akan otomatis menolak. Gabanyak orang yang langsung bisa legowo dan “nerimo ing pandum”.
Tapi ya itu, kunci besar untuk bisa dikatakan sukses move on atau beralih dari kegagalan adalah penerimaan. Ya, kalo kita udah bisa menerima dan berdamai sama kegagalan kita itu.
Kalo kata iman usman:
“Learn to let go, learn to be fine with or without it”
To let go, doesn’t mean that you’re not allowed to be sad. Embrace your emotion.
Mungkin buat bisa berdamai dengan kegagalan, kekecewaan, penolakan ya kita mungkin kita harus sedih dulu. Gapapa, sedih. Sedih kan alamiah, bukan indikasi orang lemah. Terima kegagalan, sedih. Sambat, ngeluh, nangis, marah. Gapapa. Tapi jangan berlarut-larut. Kalo kata Hindia, secukupnya.
Kalimat kayak gini, mungkin akan terlihat sangat bullshit dan teoritis banget kalo dibaca ketika kamu lagi sedih dan stress-stressnya.
Kek mana sedih yang secukupnya itu?
Apa an banget sih.
Gapapa, tapi yang perlu kita inget bersama, dengan berlarut-larut sedih aja, mager ngapa-ngapain. Ga akan bikin kondisi berubah lebih baik. Jadi, tetap menyemangati diri sendiri. Buat jadi kuat itu, tanggung jawab tiap individu. Makanya di salah satu pelajaran sosial, kalo ga salah dulu jaman SMA, atau mungkin ketika guru BK jelasin, seringkali dibilang “motivasi internal itu paling kuat pengaruhnya dibanding eksternal”. Ya karena motivasi yang muncul dari dalem diri sendiri. Kepinginan sendiri, bukan karena disuruh orang lain.
Accept your time zone. Accept that everyone has their own time zone.
Life is gonna be good.
Kita gabisa ngasih orang sesuatu yang gak kita punya jadi kalo kita mau kasih cinta ke orang lain, ke kerjaan, atau apapun itu, love yourself first. Lebih keren pake bahasa Inggris sih,
“You can't give what you don’t have. So, if you want to love others, love yourself first.”
Jadi untuk kamu-kamu di luar sana, yang sedang membaca tulisan ini, dan mungkin sedang merasakan bertanya bangkit dari kesedihan, kesusahan. Mau beralih dan move on dari kegagalan susah sekali. Tetap semangat! Ingat, self acceptance is also the key. Harus bisa berdamai dulu, gimanapun caranya. Mungkin ga cukup sehari, dua hari buat bisa berdamai. Kamu yang paling ngerti gimana caranya ngadepin kamu sendiri.



Komentar